Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Hadis Nabi

  • Ulama Pewaris Nabi

    Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda

  • إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

    “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

    Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda

  • إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

    “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Pesan Umar Abdul Aziz

"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka." (Umar bin Abdul Aziz)

Thursday, 5 April 2012

Biografi Al-Kindi


Al-Kindi (يعقوب بن اسحاق الكندي ) (lahir: 801 - wafat: 873), bisa dikatakan merupakan filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani pula. Banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinus. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles dan berjudulkan Teologi menurut Aristoteles, sehingga di kemudian hari ada sedikit kebingungan.

Al-Kindi berasal dari kalangan bangsawan, dari Irak. Ia berasal dari suku Kindah, hidup di Basra dan meninggal di Bagdad pada tahun 873. Ia merupakan seorang tokoh besar dari bangsa Arab yang menjadi pengikut Aristoteles, yang telah mempengaruhi konsep al Kindi dalam berbagai doktrin pemikiran dalam bidang sains dan psikologi.

Al Kindi menuliskan banyak karya dalam berbagai bidang, geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik(yang dibangunnya dari berbagai prinip aritmatis), fisika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik.

Ia membedakan antara intelek aktif dengan intelek pasif yang diaktualkan dari bentuk intelek itu sendiri. Argumen diskursif dan tindakan demonstratif ia anggap sebagai pengaruh dari intelek ketiga dan yang keempat. Dalam ontologi dia mencoba mengambil parameter dari kategori-kategori yang ada, yang ia kenalkan dalam lima bagian: zat(materi), bentuk, gerak, tempat, waktu, yang ia sebut sebagai substansi primer.

Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.

RIWAYAT HIDUP

Al-Kindi merupakan nama yang diambil dari suku yang menjadi asal cikal bakalnya, yaitu Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak dikagumi orang.

Sedangkan nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah bin imron bin Isma’il al-Asy’ad bin Qays al-Kindi. Lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kuffah. Ayahnya Ishaq As-Shabbah adalah gubernur Kuffah pada masa pemerintahan al-Mahdi dan Harun ar-Rasyid dari bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah al-Kindi lahir.

Pada masa kecilnya al-Kindi sempat merasakan masa pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid yang terkenal kepeduliannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum muslim. Ilmu pengetahuan berpusat di Baghdad yang sekaligus menjadi pusat perdagangan. Pada masa pemerintahan ar-Rasyid sempat didirikan lembaga yang disebut bayt al-Hikmah (Balai Ilmu Pengetahuan). pada waktu al-Kindi berusia 9 tahun ar-Rasyid wafat dan pemerintahan diambil alih oleh putranya al-Amin yang tidak melanjutkan usaha ayahnya ar-Rasyid untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun setelah beliau wafat pada tahun 185 H (813 H) kemudian saudaranya al-Makmun menggantikan kedudukannya sebagai khalifah (198-228 H) ilmu pengetahuan berkembang pesat. Fungsi Bayt al-hikmah lebih ditingkatkan, sehingga pada masa pemerintahan al-Makmun berhasil dipadukannya antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu asing khususnya dari Yunani. Dan pada waktu inilah al-Kindi menjadi sebagai salah seorang tokoh yang mendapat kepercayaan untuk menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan dia memberi komentar terhadap pikiran-pikiran pada filosuf Yunani.

Masa kecil al-Kindi mendapat pendidikan di Bashrah. Tentang siapa guru-gurunya tidak dikenal, karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Setelah menyesaikan pendidikannya di Bashrah ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat, ia banyak mengusai berbagai macam ilmu yang berkembang pada masa itu seperti ilmu ketabiban (kedokteran), filsafat, ilmu hitung, manthiq (logika), geometri, astronomi dan lain-lain. Pendeknya ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani juga ia pelajari dan sekurang-kurangnya salah satu bahasa ilmu pengetahuan kala itu ia kuasai dengan baik yaitu bahasa Suryani. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani inilah Al-Kindi menterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Pada masa pemerintahan al-Mu’tashim yang menggantikan al-Makmun pada tahun 218 H (833 M) nama al-Kindi semakin menanjak karena pada waktu itu al-Kindi dipercaya pihak istana menjadi guru pribadi pendidik putranya yaitu Ahmad bin Mu’tashim. Pada masa inilah al-Kindi mempunyai kesempatan untuk menulis karya-karyanya, setelah pada masa al-Ma’mun menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab.


KARYA-KARYA AL-KINDI

Karya yang telah dihasilkan oleh al-Kindi kebanyakan hanya berupa makalah-makalah. Ibnu Nadim, dalam kitabnya Al-Fihrits, menyebutkan lebih dari 230 buah.[1] George N. atiyeh menyebutkan judul-judul makalah dan kitab-kitab karangan al-Kindi sebanyak 270 buah.[2]

Dalam bidang Filsafat, karangan al-Kindi pernah diterbitkan oleh Prof. Abu Ridah (1950) dengan judul Rosail al-Kindi al-Falasifah (Makalah-makalah filsafat al-Kindi) yang berisi 29 makalah. Prof. Ahmad Fuad Al-Ahwani pernah menerbitkan makalah al-Kindi tentang filsafat pertamanya dengan judul Kita al-Kindi ila al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (Surat al-Kindi kepada Mu’tashim Billah tentang filsafat pertama).

Karangan-karangan al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batsasan-batasan makna istilah-istilah yang digunakan dalam terminologi ilmu filsafat. Ilmu-ilmu filsafat yang ia bahas mencakup epistemologi, metafisika, etika dan sebagainya. Sebagaimana halnya para penganut Phytagoras, al-Kindi juga mengatakan bahwa dengan matematika orang tidak bisa berfilsafat dengan baik.

Kalau dilihat dari karangannya al-Kindi adalah penganut aliran eklektisisme.[3] Dalam metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat Aristoteles, dalam Psikologi ia mengambil pendapat Plato, dalam bidang etika ia mengambil pendapat-pendapat Socrates dan Plato. Namun kepribadian al-Kindi sebagai filosuf Muslim tetap bertahan. Misalnya dalam membicarakan tentang kejadian alam al-Kidi tidak sependapat dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa alam itu abadi, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa alam adalah ciptaan Allah, diciptakan dari tiada dan akan berakhir menjadi tiada pula.

Sebagai seorang filosuf yang mempelopori mempertemukan agama dengan filsafat Yunani, al-Kindi menghadapi banyak tantangan para ahli agama. Ia dianggap telah meremehkan bahkan membodoh-bodohi ulama’ yang tidak mengetahui filsafat Yunani. Fitnah-fitnah yang ditujukan kepadanya semakin deras dan keras, terutama pada masa pemirantahan Mutawakkil. Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat adalah semulia-mulianya ilmu dan yang tertinggi martabatnya, dan filsafat menjadi kewajiban setiap ahli pikir (ulul albab) untuk memiliki filsafat itu. Pernyataan ini terutama tertuju kepada ahli-ahli agama yang mengingkari filsafat dengan dalih sebagai ilmu syirik, jalan menuju kekafiran dan keluar dari agama. Menurut al-Kindi, berfilsafat tidaklah berakibat mengaburkan dan mengorbankan keyakinan agama. Filsafat sejalan dan dapat mengabdi kepada agama.

DEFINISI FILSAFAT AL-KINDI

Al-Kindi menyajikan banyak definisi filsafat tanpa menyatakan bahwa definisi mana yang menjadi miliknya. yang disajikan adalah definisi-definisi terdahulu, itupun tanpa mengaskan dari siapa definisi tersebut ia peroleh. Mungkin hal ini dimaksudkan bahwa pengertian sebenarnya tercakup dalam semua definisi yang ada, tidak hanya pada salah satunya. Menurut al-Kindi untuk memperoleh pengertian lengkap tentang apa filsafat itu harus memperhatikan semua unsur yang terdapat dalam semua definisi tentang filsafat. Definisi-definisi al-Kindi sebagai berikut :

1. Filsafat terdiri dari gabungan dua kata, Philo, Sahabat dan Sophia, Kebijaksanaan. Filsafat adalah cinta terhadap kebijaksanaan. Definisi ini berdasar atas etimologo Yunani dari kata-kata itu.

2. Filsafat adalah upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Definisi ini merupakan definisi fungsional, yaitu meninjau filsafat dari segi tingkah laku manusia.

3. Filsafat adalah latihan untuk mati. Yang dimaksud dengan mati adalah bercerainya jiwa dan badan. Atau mematikan hawa nafsu adalah mencapai keutamaan. Oleh karenanya, banyak orang bijak terdahulu yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kejahatan. Definisi juga merupakan definisi fungsional, yang bertitik tolak pada segi tingkah laku manusia pula.

4. Filsafat adalah pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan. Definisi ini bertitik tolak dari segi kausa.

5. Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya. Definisi ini menitik beratkan pada fungsi filsafat sebagai upaya manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Para filosuf berpendapat bahwa manusia adalah badan, jiwa dan aksedensial manusia yang mengetahui dirinya demikian itu berarti mengetahui segala sesuatu. Dari sinilah para filosuf menamakan manusia sebagai mikrokosomos.

6. Filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang abadi dan bersifat menyeluruh (umum), baik esensinya maupun kausa-kausanya. Definisi ini menitikberatkan dari sudut pandang materinya.

Dari bebrapa definisi yang amat beragam di atas, tampaknya al-Kindi menjatuhkan pada definisi terakhir dengan menambahkan suatu cita filsafat, yaitu sebagai upaya mengamalkan nilai keutamaan. Menurut al-Kindi, filosuf adalah orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan hidup mengamalkan kebenaran yang diperolehnya yaitu orang yang hidup menjunjung tinggi nilai keadilan atau hidup adil. Dengan demikian, filsafat yang sebenarnya bukan hanya pengetahuan tentang kebenaran, tetapi disamping itu juga merupakan aktualisasi atau pengamalan dari kebenaran itu. Filosuf sejati adalah yang mampu memperoleh kebijaksanaan dan mengaktualisasikan atau mengamalkan kebijaksanaan itu. Hal yang disebut terakhir menunjukkan bahwa konsep al-Kindi tentang filsafat merupakan perpaduan antara konsep Socrates dan aliran Stoa. Tujuan terakhir adalah dalam hubungannya dengan moralita.

Al-Kindi menegaskan juga bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, kausa daripada semua kebenaran, yaitu filsafat pertama. Filosuf yang sempurna dan sejati adalah yang memiliki pengetahuan tentang yang paling utama ini. Pengetahuan tentang kausa (‘illat) lebih utama dari pengetahuan tentang akibat (ma’lul, effact). Orang akan mengetahui tentang realitas secara sempurna jijka mengetahui pula yang menjadi kausanya.


EPISTEMOLOGI AL-KINDI

PENDAHULUAN

Pada kesempatan sebelumnya kita telah memaparkan biografi salah seorang tokoh filsafat Islam yang cukup berpengaruh dan mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di dalam dunia Islam, yaitu al-Kindi yang mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah bin imron bin Isma’il al-Asy’ad bin Qays al-Kindi[4]. Dalam kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk memaparkan pemikiran al-Kindi tentang epistemologi.

Namun sebelumya kita ingin memberikan gambaran umum tentang epistemologi tersebut, epistemologi yang merupakan nyawa dari filsafat membahas tentang seluk beluk pengetahuan manusia, akan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan dan tentunya sangat banyak pembahasan tentang pengetahuan. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan? Apakah yang menjadi dasar ataupun sumber dari pengetahuan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi cakupan dalam Epistemologi.

Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat –dalam hal ini filsafat modern– terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti empirisme, rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun intuisionisme.

PENGERTIAN

Secara etimologi (baca: bahasa), epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi berarti pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Sedangkan Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemologi is the branch of philoshophy which investigates the origin, stucture, methods and validity of knowledge.[5] Karena itulah epistemologi sering dikenal sebagai filsafat pengetahuan.

Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.

Al-Kindi telah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, namun sebagai seorang filosuf Muslim, ia mempunyai kepribadian seorang Muslim sejati yang tak tergoda dan tetap mayakini prinsip-prinsip di dalam Islam. Al-Kindi mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :

a) Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut pengetahuan inderawi,

b) Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut pengetahuan rasional, dan

c) Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan pengetahuan isyraqi atau iluminatif.

a. Pengetahuan Inderawi

Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung ketika orang mengamati terhadap obyek-obyek material (sentuhan, penglihatan, pendengeran, pengcapan dan penciuman). Kemudian dalam proses yang sangat singkat tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya, obyek-obyek yang telah ditangkap oleh indera tersebut berpindah ke imajinasi (musyawwiroh), kemudian diteruskan ke tempat penampungannya yang disebut hafizhah

(recolection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini (Inderawi) tidak tetap dan akan selalu berubah; karena obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang kuantitasnya, dan berubah-ubah pula kualitasnya.

Pada dasarnya pengetahuan inderawi ini mempunyai kelemahan yang cukup banyak, sehingga pengetahuan yang didapatkan belum tentu benar. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain Indera terbatas, benda yang jauh terlihat kecil berbeda ketika benda tersebut berada di dekat kita, lalu apakah benda tersebut memang berubah menjadi kecil? tidak, keterbatasan kemampuan indera ini dapat memberikan pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua adalah Indera menipu, gula yang rasanya manis akan terasa pahit ketika dirasakan oleh orang yang sakit, begitu juga udara yang yang panas akan terasa dingin. Sehingga hal ini akan memberikan pengetahuan yang salah juga. Kelemahan ketiga ialah Obyek yang menipu, seperti ilusi, fatamorgana. Di sini Indera menangkap obyek yang sebenarnya tiada. Kelemahan keempat berasal dari indera dan obyek sekaligus, indera misalnya mata tidak dapat melihat obyek secara keseluruhan dan begitu juga obyek yang tidak memperlihatkan dirinya secara keseluruhan, sehingga hal ini akan memberikan informasi pengetahuan yang salah pula.

b. Pengetahuan Rasional

Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial dan bersifat immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu; tetapi genus dan spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit putih atau berwarna, yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. tetapi orang yang mengamati manusia, menyelidiki hakikatnya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk berfikir (rational animal = hewan nathiq), telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu manusia. Manusia yang telah ditajrid (dipisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai gambar yang telukis dalam perasaan.

Kelihatannya sudah cukup jelas bahwa pengetahuan hanya terbagi menjadi dua, karena keduanya sudah saling melengkapi, tapi ternyata hal tersebut belum cukup. Indera (empiris) dan akal (rasio/logis) yang bekerjasama belum mampu mendapatkan pengetahuan yang lengkap dan utuh. Indera hanya mampu mengamati bagian-bagian tertentu tentang obyek. Dibantu oleh akal, manusia juga belum mapu memperoleh pengetahuan yang utuh. Akal hanya sanggup memikirkan sebagian dari obyek.[6]

Al-Kindi memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metode yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodenya sendiri yang sesuai dengan wataknya. Watak ilmulah yang menentukan metodenya. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan suatu metode suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metodenya sendiri. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan metode ilmu alam untuk metafisika.

c. Pengetahuan Isyraqi

Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan yang hakiki tentang hakikat-hakikat. Pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tentang genus dan spesies. Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua macam jalan ini. Al-Kindi, sebagaiman halnya banyak filosof isyraqi, mengingatkan adanya jalan lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan isyraqi (iluminasi), yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dari jalan ini adalah yang diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah untuk memperolehnya.

Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata-mata. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa meraka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu. Akal meyakinkan pengetahuan pengetahuan mereka berasal dari tuhan, karena pengetahuan itu ada ketika manusia tidak mampu mengusahakannya, karena hal itu memang di luar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dengan penuh ketaatan dan ketundukan mereka kepada kehendak tuhan, membenarkan semua yang dibawakan para nabi.

Untuk memberi contoh perbedaan pengetahuan manusia yang diperoleh dengan jalan upaya dan pengetahuan para nabi yang diperoleh dengan jalan wahyu, Al-Kindi mengemukakan pertanyaan orang-orang kafir tentang bagaimana mungkin tuhan akan membangkitkan kembali manusia dari dalam kuburnya setelah tulang-belulangnya hancur menjadi tanah; sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Yasin ayat 78-82. Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an ini amat cepat diberikan oleh nabi Muhammad saw. karena berasal dari wahyu tuhan, dan tidak yakin akan dapat dijawab dengan cepat dan tepat serta jelas oleh filosuf.

Pertanyaan yang diajukan pada nabi Muhammad saw. adalah sebagai berikut: Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah membusuk? Segeralah tuhan menurunkan wahyu jawabannya: Katakanlah yang memberinya hidup adalah penciptanya yang pertama kali yang mengetahui segala kejadian, Dia yang menjadikan bagimu api dari kayu yang hijau, kemudian kamu menyalakan api darinya. Tiadakah yang telah menciptakan langit dan bumi sanggup menciptakan yang serupa itu? Tentu saja karena Dia maha Pencipta, maha Tahu. Bila Dia menghendaki sesuatu, cukuplah Dia perintahkan, ”jadilah”, maka iapun menjadi.

Al-Kindi memberikan penjelasannya tentang ilmu yang berasal dari Tuhan sebagaimana dicerminkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut sebagai berikut:

Tidak ada bukti bagi akal yang terang dan bersih yang lebih gamblang dan ringkas daripada yang tertera dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, yaitu bahwa tulang-belulang yang benar-benar telah terjadi setelah tiada sebelumnya, adalah sangat mungkin apabila telah rusak dan busuk ada kembali. Mengumpulkan barang yang berserakan lebih mudah daripada membuatnya dari tiada, meskipun bagi Tuhan tidak ada hal yang dapat dikatakan lebih mudah ataupun lebuh sulit. Kekuatan yang telah menciptakan mugkin menumbuhkan sesuatu yang telah dihancurkan.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa tuhan telah menjadikan kayu hijau dan dapt dibakar menjadi api; hal ini mengandung ajaran bahwa sesuatu mungkin bisa terjadi dari lawannya. Tuhan menjadikan api dari bukan api dan menjadikan panas dari bukan panas. Jika sesuatu mungkin terjadi dari lawannya, maka akan lebih mungkin lagi sesuatu terjadi dari dirinya sendiri.

Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi berkuasa pula menciptakan yang serupa itu, karena Dia adalah tuhan yang maha pencipta lagi maha mengetahui. Al-Kindi menjelaskan bahwa hal tersebut dapat diyakini kebenarannya secara amat jelas tanpa memerlukan argumentasi apapun. Orang-orang kafir mengingkari penciptaan langit, karena mereka mengira bagaimana langit itu diciptakan, berapa lama waktu yang diperlukan jika dibandingkan dengan perbuatan manusia melakukan suatu pekerjaan. Sangkaan mereka itu tidak benar, tuhan tidak memerlukan waktu jika menghendakiuntuk menciptakan sesuatu. Tuhan berkuasa menciptakan sesuatu dari yang bukan sesuatu dan mengadakan sesuatu dari tiada. Sesuatu ada bersamaan dengan kehendak-Nya.

Al-Kindi mengakhiri penjelasannya tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan contoh-contoh di atas sebagai beriku: "Tak ada manusia yang dengan filsafat manusia sanggup menerangkan sependek huruf-huruf yang tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan kepada Rasul-Nya itu, yang menerangkan bahwa tulang-belulang akan hidup setelah membusuk dan hancur, bahwa kekuasaan tuhan seperti menciptakan langit dan bumi, bahwa sesuatu dapat terjadi dari lawannya. Kata-kata manusia tidak sanggup menuturkannya, kemampuan manusia tidak sanggup melakukannya; akal manusia yang bersifat parsial tidak terbuka untuk sampai pada jawaban yang demikian itu."[7]

Pengetahuan Isyraqi ini, selain didapatkan oleh para nabi. Ada kemungkinan juga didapatkan oleh orang-orang yang beris, suci jiwanya, walaupun tingkatan atau derajatnya berada dibawah dari pengetahuan yang dipeoleh para nabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan para nabi yang diperoleh dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya daripada pengetahuan para filosuf yang tidak dari wahyu.

1 comments:

Nur Aishah said...

hana dulssik buri keojjyeoganeun sesang soge.. nega neol bichyeo julge... oh

Post a Comment

 
“Kemunduran sebuah bangsa, kerana mereka tidak mengenal sejarah dan tokoh-tokoh mereka” Ibnu Khaldun

Archives

Follow by Email

Pelawat Seantero

Sample Text

Kepada semua penulis asal, blogger atau sesiapa saja yang artikelnya saya petik dan masukkan di sini, saya memohon kebenaran dan diharap tidak dituntut di akhirat nanti. Seboleh-bolehnya saya akan "quote" artikel asal dan sumbernya sekali, supaya apa yang dimaksudkan oleh penulis asal tidak lari atau menyeleweng. Saya ambil artikel-artikel penulisan untuk rujukan saya dan sahabat-sahabat pelawat. Saya masih cetek ilmu tidak sehebat sahabat-sahabat yang menulis artikel-artikel di blog ini. Jazakumullah khairan kathira kerana sudi menghalalkan ilmu untuk perkongsian seluruh masyarakat Islam

Kata Hukama


Followers

Labels