Sunday, 1 April 2012

Biografi Syeikh Hasan Nasrallah

Hassan Nasrallah (lahir pada 31 Agustus 1960 di Beirut) adalah seorang politikus Lebanon. Ia adalah sekretaris jenderal partai Hizbullah saat ini. Di bawah kepemimpinan Nasrallah, Hizbullah (Hezbollah) mampu mematahkan serangan Israel, sesuatu yang selama ini nyaris tak dapat dilakukan oleh bangsa-bangsa Arab. Dengan gebrakan Nasrallah, kaum muslim bersatu, tanpa meributkan lagi soal sekat mazhab Sunni-Syiah.

Sayid Hasan Nasrullah bin Abdulkarim Nasrullah lahir di dusun Bazuriyah, Lebanon Selatan pada 1960. Saat mencapai usia 16 tahun ia berhijrah ke Najaf, yang merupakan pusat keagamaan (hauwzah) untuk memulai pendidikan agama. Di kota inilah ia berkelana dan menjalin hubungan dekat dengan Abbas Musawi al-Biqa’iy, sekjen Hizbullah saat itu, dan menjadi idolanya.
Sayid Hasan Nasrullah menjadi pemimpin Hizbullah pada tahun 1992 setelah dipilih oleh Dewan Syura partai, menggantikan Sayid Abbas Musawi yang gugur. Meski sebelumnya tidak memegang jabatan wakil sekjen dan hanya anggota termuda, ia terpilih sebagai sekjen. Sejak itu, jejak dan pengaruhnya terhadap garis politik partai ini terlihat sangat menonjol. Dialah yang meluncurkan senjata katyusha dalam pertempuran melawan Israel. Dia pula yang mencetuskan gagasan ‘perimbangan kekuatan’ yang telah berhasil membuat Israel menandatangani pakta April yang berisikan pengakuan akan hak perlawanan para pejuang atas serangan pasukan pendudukan Israel terhadap posisi-posisi mereka.

Nasrullah menyelesaikan jenjang pertama pendidikan selama dua tahun, padahal lazimnya berlangsung lima tahun. Ia kembali ke Lebanon dan melanjutkan studi di Baalbek di sekolah dengan gaya Hawzah Najaf yang didirikan dan diasuh oleh Sayid Abbas Musawi, yang saat itu menjadi petinggi organik Amal di Beka.
Revolusi Islam Iran telah menciptakan realitas baru dalam masyarakat Lebanon. Sedangkan Amal berada dalam dilema dua kubu: kubu yang melibatkan diri dalam percaturan politik atau kubu yang meretas hubungan ideologis secara langsung dengan Iran sebagai patron dan penyuplai dukungan material dan spiritual seiring dengan invasi Israel 1982. Polarisasi dan peselisihan antar dua kubu dalam Amal kian meluas dan ‘resmi’ pecah ketika pemimpin kubu pertama bergabung dalam Kabinet Penyelamatan Nasional pimpinan Bashir Gamayel. Sebagai reaksi, kubu kedua menyatakan keluar dari Amal dan mendirikan Hizbullah. Sejak saat itulah, volume perlawanan terhadap pendudukan Israel dimulai seiring dengan meluasnya tradisi ‘kesyahidan’ dan ‘jihad di jalan Allah’ menjadi moto aksi yang diimbangi dengan program pengkaderan secara massif dan terstruktur.

Antara 1982 dan 1989 Nasrullah memegang posisi misi-misi organisasi. Ia berkonsentrasi dalam pengakaderan dan pemupukan semangat perlawanan dan jihad. Dikutip dari orang-orang dekatnya bahwa ia selalu mengulang ucapan “Israel di benak kita adalah sebuah negara yang kuat. Ketika ilusi ini gugur dan kita menggunakan kekuatan yang tersimpan dalam diri kita, maka kita akan temukan bahwa eksistensi yang bernama Israel ini lebih lemah dari sarang laba-laba”.
Nasrullah percaya bahwa Islam adalah solusi bagi masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Suatu ketika ia menyatakan, “Menyangkut kita, secara ringkas, Islam bukan sekedar agama yang meliputi shalat dan doa, tetapi ia adalah risalah Ilahi yang dirancang untuk umat manusia. Islam mampu menjawab setiap pertanyaan yang orang ajukan ihwal kehidupan individu dan sosialnya. Islam adalah agama yang dirancang untuk suatu masyarakat yang bisa melakukan revolusi dan membentuk sebuah negara.

Nasrullah suatu ketika mengatakan bahwa ia membaca banyak buku, khususnya memoir para tokoh politik, termasuk autobiografi Ariel Sharon “Memoirs of Sharon” dan biografi Benjamin Netanyahu bertajuk A Place Under the Sun, dengan tujuan mendapatkan informasi hal ihwal musuh-musuhnya.
Rumah dan kantornya dihancurkan oleh serangan bom Israel selama krisis Lebanon-Israel pada 14 Juli 2006. Sebelumnya ia sudah kehilangan putra tertuanya Muhammad Hadi yang dibom oleh tentara Israel pada September 1997
Sayid Hasan Nasrallah Mencium Tangan Rahbar (Kisah dari: Hujjatul Islam dan Muslimin Masihi Muhajiri)
 
Pembukaan konferensi international “Pembelaan terhadap Intifadah” yang disertai dengan pidato penting dari Pemimpin Revolusi Islam Iran Sayid Ali Khâmenei. Setelah Rahbar menyelesaikan pidatonya dan berjalan melewati ruangan konferensi, Sayid Hasan Nasrallah (pemimpin Hizbullah) berdiri dari tempatnya berjalan mendekati Rahbar dan mencium tangan beliau. Selanjutnya diikuti oleh Dr. Ramadan Abdullah (Pemimpin Jihad Islam Palestina) dan Khaled Masy’al (Ketua Urusan Politik Hamas) melakukan hal yang sama. Dalam peristiwa itu, para pejabat-pejabat lainnya juga berkesempatan menyampaikan rasa terimakasihnya kepada pemimpin revolusi.
Dua hari kemudian, saya pergi menemui Sayid Hasan Nasrallah dan berdialog dengan beliau. Apa yang membuat Sayid bersikap tawadhu dan mencium tangan Rahbar di tengah-tengah majlis resmi itu? Beliau berkata: “Saya sengaja melakukan -tentunya dengan segala ketulusan hati- hal ini, disebabkan karena tahun ini semua media dunia menjuluki saya sebagai “manusia teladan” dan di seluruh Negara Arab juga dikenal sebagai “pemimpin tersukses di dunia Arab”. Akan tetapi di majlis penting ini yang dihadiri oleh para pemimpin gerakan islam dunia dan juga pakar-pakar politik negara-negara Islam serta disiarkan langsung media TV keseluruh pelosok dunia, saya melakukan hal ini untuk menunjukkan keseluruh penduduk dunia yang mengenal saya bahwa saya adalah prajurit Rahbar pemimpin tertinggi revolusi Islam Iran.

Sikap dan perbuatan Sayid Hasan Nasrallah ini menunjukkan ketinggian dan kemuliaan kedudukan Rahbar, Kemuliaan yang membuat pemimpin Hizbullah Libanon itu mencium tangan Rahbar dengan penuh keikhlasan dan itu dilakukan di tengah-tengah kalangan para pemimpin besar Arab.

No comments:

Post a Comment

Author

Stats

Kata Hukama


About

Followers

Archives

Pelawat Seantero

Ulama Pewaris Nabi

Ulama Pewaris Nabi

Sample Text

Kepada semua penulis asal, blogger atau sesiapa saja yang artikelnya saya petik dan masukkan di sini, saya memohon kebenaran dan diharap tidak dituntut di akhirat nanti. Seboleh-bolehnya saya akan "quote" artikel asal dan sumbernya sekali, supaya apa yang dimaksudkan oleh penulis asal tidak lari atau menyeleweng. Saya ambil artikel-artikel penulisan untuk rujukan saya dan sahabat-sahabat pelawat. Saya masih cetek ilmu tidak sehebat sahabat-sahabat yang menulis artikel-artikel di blog ini. Jazakumullah khairan kathira kerana sudi menghalalkan ilmu untuk perkongsian seluruh masyarakat Islam

Popular Posts